Kedaulatan Digital: Dosen Bisnis Digital ITK Soroti Tantangan Ekonomi Digital Indonesia sebagai Wujud Bela Negara
07 February 2026
Pada 07 Februari 2026, Muh. Ikhsan Alif S., S.E., M.Sc., seorang Dosen Bisnis Digital di Institut Teknologi Kalimantan, merilis sebuah ulasan kritis bertajuk "Ekonomi Digital Indonesia: Besar di Angka, Lemah di Kendali?". Tulisan ini menyoroti fenomena pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang secara statistik terlihat sangat impresif melalui peningkatan transaksi e-commerce dan pertumbuhan startup, namun sebenarnya masih menyimpan kerentanan teknis yang mendalam.
Dalam ulasannya, beliau menekankan bahwa banyak pelaku usaha lokal, termasuk UMKM, sebenarnya masih bergantung penuh pada ekosistem asing, mulai dari platform tempat berjualan, algoritma promosi, hingga penyimpanan data pelanggan di server luar negeri. Beliau mengingatkan bahwa ketergantungan tanpa strategi jangka panjang ini berisiko membuat Indonesia hanya menjadi konsumen nilai yang besar bagi platform global, tanpa memiliki kendali atas pasar dan arah pengembangan bisnisnya sendiri.
Isu ini kemudian ditarik ke dalam konteks bela negara di era digital. Menurut beliau, bela negara saat ini bukan hanya soal perlawanan fisik, melainkan bagaimana bangsa Indonesia mampu membangun kapasitas mandiri dalam mengelola data, mengembangkan platform lokal, dan mencetak SDM digital yang paham struktur ekosistem global. Beliau menekankan bahwa tantangan masa depan bukan lagi soal "bisa go digital atau tidak", melainkan siapa yang memegang kendali atas digitalisasi tersebut.
Ulasan ini memicu diskusi hangat mengenai arah pendidikan bisnis digital di masa depan. Salah seorang mahasiswa memberikan tanggapannya, "Selama ini kami hanya fokus cara jago optimasi iklan dan mengejar viral, tapi ternyata memikirkan kedaulatan data dan posisi Indonesia di rantai nilai global itu jauh lebih menentukan masa depan kami sebagai pelaku usaha.".
Sebagai penutup, Muh. Ikhsan Alif S. mengajak seluruh pihak—mulai dari generasi muda hingga pemerintah—untuk mulai serius membangun fondasi ekonomi digital yang mandiri melalui regulasi yang visioner dan model bisnis yang berkelanjutan. Harapannya, Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pengguna, tetapi bertransformasi menjadi pengendali ekonomi digital demi masa depan bangsa yang lebih berdaulat.
Dalam ulasannya, beliau menekankan bahwa banyak pelaku usaha lokal, termasuk UMKM, sebenarnya masih bergantung penuh pada ekosistem asing, mulai dari platform tempat berjualan, algoritma promosi, hingga penyimpanan data pelanggan di server luar negeri. Beliau mengingatkan bahwa ketergantungan tanpa strategi jangka panjang ini berisiko membuat Indonesia hanya menjadi konsumen nilai yang besar bagi platform global, tanpa memiliki kendali atas pasar dan arah pengembangan bisnisnya sendiri.
Isu ini kemudian ditarik ke dalam konteks bela negara di era digital. Menurut beliau, bela negara saat ini bukan hanya soal perlawanan fisik, melainkan bagaimana bangsa Indonesia mampu membangun kapasitas mandiri dalam mengelola data, mengembangkan platform lokal, dan mencetak SDM digital yang paham struktur ekosistem global. Beliau menekankan bahwa tantangan masa depan bukan lagi soal "bisa go digital atau tidak", melainkan siapa yang memegang kendali atas digitalisasi tersebut.
Ulasan ini memicu diskusi hangat mengenai arah pendidikan bisnis digital di masa depan. Salah seorang mahasiswa memberikan tanggapannya, "Selama ini kami hanya fokus cara jago optimasi iklan dan mengejar viral, tapi ternyata memikirkan kedaulatan data dan posisi Indonesia di rantai nilai global itu jauh lebih menentukan masa depan kami sebagai pelaku usaha.".
Sebagai penutup, Muh. Ikhsan Alif S. mengajak seluruh pihak—mulai dari generasi muda hingga pemerintah—untuk mulai serius membangun fondasi ekonomi digital yang mandiri melalui regulasi yang visioner dan model bisnis yang berkelanjutan. Harapannya, Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pengguna, tetapi bertransformasi menjadi pengendali ekonomi digital demi masa depan bangsa yang lebih berdaulat.